PPulau Dolak Kabar
Ekowisata Mangrove & Hutan Tropis Pulau Dolak

Menyusuri Mangrove Selat Muli: Gerbang Hijau Pulau Kolepom dari Kimaam

Selat Muli memisahkan Pulau Kolepom dari daratan Nugini. Dari Kimaam, mangrove jadi gerbang hijau bagi warga dan pelancong yang menyeberang.

Menyusuri Mangrove Selat Muli: Gerbang Hijau Pulau Kolepom dari Kimaam

Sorotan Utama

  • Pulau Kolepom masuk wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
  • Selat Muli yang sempit memisahkan Pulau Kolepom dari pulau utama Nugini.
  • Pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Kimaam dan pernah disebut Pulau Frederik Hendrik pada masa kolonial Belanda.
  • Suku asli pulau ini adalah Suku Kimaam, salah satu subsuku Marind.
  • Mangrove di pesisir Selat Muli menopang kehidupan harian warga Kimaam lewat hasil laut dan kayu.

Dari Dermaga Kimaam, Air Tenang, dan Akar yang Menjulang

Perahu kayu bermesin tempel itu berangkat dari dermaga kecil di Kimaam saat air masih surut. Dari sini, Selat Muli terbentang sempit, hanya beberapa ratus meter di beberapa titik, memisahkan Pulau Kolepom dari daratan utama Nugini. Bagi warga yang sehari-hari menyeberang, jalur ini bukan tujuan wisata, melainkan jalan hidup: membawa hasil kebun, ikan, dan barang kebutuhan dari satu sisi ke sisi lain.

Yang pertama menyambut bukan pasir putih, melainkan akar mangrove yang menjulang dari lumpur. Di tepian Selat Muli, rimbun bakau membentuk dinding hijau yang rapat. Saat air pasang, kanopi pohon nyaris menyentuh permukaan dan perahu masuk ke lorong alami yang gelap dan lembap. Saat surut, akar-akar penyangga tampak seperti jemari raksasa yang mencengkeram dasar selat.

Pulau Kolepom sendiri berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Nama Kolepom diambil dari pahlawan Trikora, Yos Sudarso, sementara warga setempat lebih akrab menyebutnya Pulau Kimaam. Pada masa penjajahan Belanda, pulau ini disebut Pulau Frederik Hendrik. Penduduk aslinya adalah Suku Kimaam, salah satu subsuku Marind yang telah lama hidup berdampingan dengan laut dan hutan bakau di sekitarnya.

Mangrove sebagai Dapur dan Benteng Warga Pesisir

Mangrove di Selat Muli bukan sekadar pemandangan. Ia adalah dapur, gudang, dan benteng. Warga Kimaam memanfaatkan kawasan ini untuk mencari kepiting bakau, udang, dan kerang yang bersembunyi di antara akar. Beberapa jenis ikan kecil dan benih udang juga tumbuh besar di sini sebelum menyebar ke perairan yang lebih terbuka.

Kayu bakau dipakai secara terbatas untuk bahan bakar dan tiang rumah. Namun warga tahu batas: menebang habis berarti kehilangan penahan gelombang dan tempat ikan bertelur. Karena itu, di beberapa kampung, ada kesepakatan tidak tertulis untuk mengambil hanya dari pohon yang sudah tua atau tumbang.

Dari sisi perlindungan, mangrove menahan abrasi dan angin. Selat Muli yang sempit membuat gelombang tidak terlalu besar, tetapi saat musim angin kencang, akar-akar bakau meredam energi air sebelum mencapai permukiman. Fungsi ini makin penting karena permukaan laut terus naik dan cuaca makin sulit diprediksi.

Bagi pelancong yang datang dari Merauke, menyusuri Selat Muli memberi pengalaman berbeda. Tidak ada resor atau dermaga beton. Yang ada adalah perahu warga, pemandu lokal, dan waktu yang mengikuti pasang-surut. Perjalanan biasanya dimulai pagi buta agar air masih cukup tinggi dan matahari belum menyengat.

Akses, Waktu Terbaik, dan Etika Menyusuri

Mencapai Kimaam dari Merauke tidak bisa dilakukan dalam sehari. Ada dua pilihan umum: jalur udara perintis dengan pesawat kecil, atau jalur laut dengan kapal yang jadwalnya bergantung cuaca dan muatan. Keduanya relatif terjangkau, tetapi tidak selalu tepat waktu. Perjalanan laut bisa memakan belasan jam, sementara penerbangan perintis bergantung pada kondisi landasan dan cuaca.

Waktu terbaik menyusuri mangrove Selat Muli adalah pada musim kemarau, sekitar Mei hingga September, saat hujan tidak terlalu sering dan air lebih jernih. Namun perlu diingat, jadwal kapal dan pesawat bisa berubah sewaktu-waktu. Siapkan waktu cadangan dan jangan mengandalkan koneksi internet yang stabil di Kimaam.

Perlengkapan sederhana cukup: pelampung, topi lebar, obat anti-nyamuk, dan alas kaki yang tidak licin. Bawa air minum dan makanan sendiri karena warung di sekitar dermaga terbatas. Untuk menyusuri selat, sebaiknya menyewa perahu warga dengan pemandu yang mengenal jalur, bukan mencoba mengemudikan sendiri.

Etika paling penting: jangan membuang sampah plastik ke selat, jangan memetik atau menebang mangrove, dan jangan mengganggu sarang burung atau kepiting yang sedang bertelur. Warga Kimaam hidup dari apa yang mereka rawat. Pelancong yang datang dengan hormat akan diterima sebagai tamu, bukan pengganggu.

Selat Muli memang bukan destinasi dengan tiket masuk dan papan nama besar. Ia gerbang hijau yang membuka pelan-pelan, bagi siapa pun yang bersedia mengikuti irama air dan menghargai kehidupan yang tumbuh di antara akarnya.

Tanya Jawab Singkat

Di mana letak Selat Muli dan Pulau Kolepom?

Selat Muli memisahkan Pulau Kolepom dari pulau utama Nugini. Pulau Kolepom berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dan juga dikenal sebagai Pulau Kimaam.

Bagaimana cara mencapai Kimaam dari Merauke?

Ada dua pilihan umum: jalur udara perintis dengan pesawat kecil, atau jalur laut dengan kapal. Jadwal keduanya bergantung cuaca dan muatan, jadi siapkan waktu cadangan.

Kapan waktu terbaik mengunjungi mangrove Selat Muli?

Musim kemarau, sekitar Mei hingga September, saat hujan tidak terlalu sering. Namun jadwal kapal dan pesawat tetap bisa berubah sewaktu-waktu.

Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menyusuri mangrove?

Boleh menyewa perahu warga dengan pemandu lokal. Jangan membuang sampah plastik, menebang mangrove, atau mengganggu sarang burung dan kepiting.