PPulau Dolak Kabar
Konservasi & Riset Biodiversitas Pulau Dolak

Kolepom, Kimaam, Frederik Hendrik: Satu Pulau, Tiga Nama, Satu Ekosistem Papua Selatan

Pulau Kolepom di Merauke, Papua Selatan, dikenal juga sebagai Kimaam dan Frederik Hendrik. Satu pulau, tiga nama, satu ekosistem yang perlu dijaga.

Kolepom, Kimaam, Frederik Hendrik: Satu Pulau, Tiga Nama, Satu Ekosistem Papua Selatan

Sorotan Utama

  • Pulau Kolepom masuk wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
  • Dipisahkan Selat Muli yang sempit dari pulau utama Nugini.
  • Nama lain: Pulau Kimaam dan, pada masa kolonial Belanda, Pulau Frederik Hendrik.
  • Nama Kolepom berasal dari pahlawan Trikora, Yos Sudarso.
  • Suku asli pulau ini adalah Suku Kimaam, subsuku Marind.

Tiga Nama untuk Satu Daratan

Orang di pesisir selatan Papua mengenal pulau ini dengan nama yang berbeda-beda, tergantung dari mana mereka datang dan kapan mereka belajar tentangnya. Bagi warga Merauke yang menyeberang lewat Selat Muli, pulau ini Kolepom. Bagi komunitas di pesisir utara dan pedalaman, ia Kimaam. Bagi catatan lama dari masa kolonial Belanda, ia Frederik Hendrik. Tiga nama, satu daratan yang sama, dipisahkan dari pulau utama Nugini oleh selat sempit yang membuat perahu kecil bisa menyeberang dalam waktu singkat saat cuaca tenang.

Pulau Kolepom masuk wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Nama Kolepom diambil dari seorang pahlawan Trikora, Yos Sudarso, sebagai penghormatan atas jasa beliau. Sementara nama Kimaam melekat pada suku asli pulau ini, Suku Kimaam, yang termasuk salah satu subsuku Marind. Jadi ketika orang menyebut Kimaam, mereka tidak hanya menunjuk tempat, tetapi juga orang-orang yang telah lama hidup di sana.

Pergantian nama bukan hal aneh di wilayah bekas kolonial. Yang penting dicatat, tiga nama itu tidak pernah merujuk pada tiga pulau berbeda. Ini satu pulau, dengan satu ekosistem, yang harus dikelola sebagai satu kesatuan.

Ekosistem yang Menyatu dengan Selat

Secara geografis, Pulau Kolepom berada di dataran rendah pesisir selatan Papua. Selat Muli yang sempit memisahkannya dari daratan utama Nugini, tetapi jarak yang dekat itu justru membuat hubungan ekologis keduanya sulit dipisahkan. Air, sedimen, dan kehidupan laut bergerak bebas melintasi selat. Mangrove di pesisir, rawa-rawa di pedalaman, dan hutan dataran rendah membentuk satu lanskap yang saling terhubung.

Kondisi ini membuat pulau rentan sekaligus kaya. Rentan karena perubahan di satu titik, misalnya pembukaan lahan di tepi selat, bisa berdampak ke bagian lain. Kaya karena ekosistem pesisir dan rawa biasanya menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan, udang, dan burung air yang menjadi tumpuan hidup warga. Untuk wilayah terpencil seperti ini, yang paling aman ditulis adalah hal-hal umum yang pasti benar: iklim tropis dengan curah hujan tinggi, akses yang bergantung pada transportasi air, dan kehidupan masyarakat yang dekat dengan laut serta hutan.

Pemerintah Provinsi Papua Selatan dan Kabupaten Merauke memiliki kepentingan langsung untuk menjaga kawasan ini. Pulau kecil dengan ekosistem pesisir yang utuh punya nilai konservasi tinggi, sekaligus menyimpan risiko jika pengelolaannya tidak hati-hati. Pendekatan yang paling masuk akal adalah berbasis masyarakat, karena warga Kimaam adalah pihak yang paling lama berinteraksi dengan pulau ini.

Akses, Ekonomi, dan Tantangan 2025-2026

Menuju Pulau Kolepom tidak bisa dilakukan dengan jalur darat biasa. Dari Merauke, perjalanan biasanya ditempuh lewat laut atau udara, tergantung cuaca dan ketersediaan angkutan. Pada musim hujan atau gelombang tinggi, jadwal bisa berubah. Karena itu, biaya perjalanan relatif terjangkau bagi sebagian orang, tetapi waktu tempuh yang tidak pasti menjadi kendala utama.

Ekonomi lokal bertumpu pada perikanan, hasil hutan bukan kayu, dan pertanian skala kecil. Warga menjual ikan, udang, dan hasil kebun ke pasar terdekat. Sebagian hasil dijual ke Merauke, sebagian lagi dikonsumsi sendiri. Pola ini bertahan karena pulau masih menyediakan sumber daya alam yang cukup, meski tekanan dari luar terus meningkat.

Tantangan 2025-2026 lebih pada bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian. Pembukaan lahan besar-besaran, penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, dan sampah plastik dari aktivitas pesisir adalah ancaman nyata. Di sisi lain, ada peluang dari riset biodiversitas dan ekowisata berbasis komunitas, asalkan dikelola dengan melibatkan warga Kimaam sejak awal.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan pulau ini sekadar nama di peta. Tiga nama yang melekat padanya justru mengingatkan bahwa ada sejarah panjang, ada orang yang hidup di sana, dan ada ekosistem yang tidak bisa dipisahkan dari Selat Muli. Satu pulau, tiga nama, satu ekosistem. Menjaganya berarti menjaga semuanya sekaligus.

Tanya Jawab Singkat

Di mana letak Pulau Kolepom?

Pulau Kolepom berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dipisahkan Selat Muli yang sempit dari pulau utama Nugini.

Kenapa pulau ini punya tiga nama?

Kolepom diambil dari nama pahlawan Trikora Yos Sudarso, Kimaam merujuk pada suku asli setempat, dan Frederik Hendrik adalah nama pada masa kolonial Belanda.

Siapa suku asli Pulau Kolepom?

Suku Kimaam, salah satu subsuku Marind yang telah lama mendiami pulau ini.

Apa tantangan utama konservasi di pulau ini?

Menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi warga dan kelestarian ekosistem pesisir, rawa, serta hutan dataran rendah yang saling terhubung lewat Selat Muli.